Pementasan Operet Siswa(i) SDI Bunga Bangsa "Sampek-Engtay" pada Kemeriahan Pesta Lampion Di Citra land Samarinda

Kawasan residensial terbaik di Kota Tepian, CitraLand City Samarinda menghadirkan CitraLand Imlek Festival 2013. Ini adalah event skala proyek untuk memperingati perayaan tahun baru China (Imlek) Sabtu (8/2), ada atraksi barongsai, festival mi, lomba makan mi, serta lomba menghias buah. Juga masih ada lomba menghias angpao, dan Mandarin singing contest. Tak ketinggalan, sesuai tradisi, perayaan Imlek kali ini juga menerbangkan lampion ke Udara.

Dalam kesempatan ini Siswa(i) SD Islam Bunga Bangsa mendapat kehormatan unutk mengisi acara pada pagelaran festival Imlek dengan menampilkan Operet Sampek Engtay, Binaan Ibu Dyan Widya Agustina.

Cerita Sampek Engtay yang ditampilkan telah diadaptasi dan diparodikan oleh ibu Dyan Agustina dengan judul "Sampek-Engtay (Kita Harus Sekolah Tinggi)", cerita ini telah di sesuaikan dengan jalan cerita yang tepat buat anak-anak. Dilatar belakangi dengan budaya Betawi dan Tiong Hoa di batavia jaman dahulu.
dimana anak perempuan tidak boleh sekolah tinggi. Engtay adalah seorang gadis muda dari Shangyu, Zhejiang, putri tunggal dari sebuah keluarga kaya. Ia menyamar sebagai seorang laki-laki dan pergi ke Hangzhou untuk belajar. Dalam perjalanannya, ia berkenalan dengan Sampek, yang berasal dari keluarga miskin yang bisa bersekolah karena cerdas sehingga dia mendapat beasiswa dari pemerintah Batavia untuk belajar.. Mereka memutuskan diri menjadi saudara angkat. Di sekolah mereka saling bantu dan bekerjasama dalam belajar .

hingga 3 tahun kemudian, Engtay menerima surat dari ayahnya yang meminta ia agar pulang secepatnya. Sebelum pergi, ia membuka kedoknya pada istri kepala sekolahnya, dan meminta agar ia memberikan sebuah kalung kepada Sampek sebagai hadiah persahabatan. Sampek pun akhirnya tahu bahwa sahabatnya selama ini adalah seorang wanita. 

Sesampainya di batavia Engtay tak mau mengabulkan permintaan orang tuanya untuk dijodohkan dengan Saudagar Kaya tersebut karena saudagar itu tak bisa baca tulis, tidak pernah bersekolah dan sangat sombong karena merasa keturunan orang kaya. dan Engtaypun menolak permintaan Orang tuanya dan memohon untuk dapat melanjutkan studinya hingga ke perguruan tinggi.

Keluarga Engtay akhirnya mengabulkan keinginan Engtay untuk kembali sekolah hingga keperguruan tinggi dan membuat kesepakatan bahwa pendidikan adalah modal utama untuk kehidupan. Tanpa pendidikan, akhlak baik dan kerja keras, harta tidak akan ada gunanya. Diakhir cerita Siswa(i) mempersembahkan tari Barongsai dan Reog ponorogo hasil karya Bapak Haryanto, S.pd dan Azis Fathoni, S.Pd

Ada yang menarik setelah pagelaran selesai. Rona bahagia terpancar pada wajah anak-anak pelakon Operet, karena merekapun kebanjiran Angpao dari Warga keturunan Tionghoa yang hadir pada Kemeriahan Pesta Lampion di festival Imlek malam itu. Indahnya kebersamaan dalam Perbedaan.

Berikut Aktor Sampek Engtay

Rayhan Aditya efendi (Sampek)
Alya Maulidya (Engtay)
Aulia ulfah (narator)
Husen Khadavi (ma Wen Cai)
Yanuar Wahyu ( Engkong)
Fitri Qotrunnada (Miss Nancy)
Gita, Syaima, gladys (Para Vampir)
Sabrina-Nayla-Michele-Afifah-Alifah (Penari Liong dan Reog)