Pelepasan Balon Harapan di Penutupan MOS 2015 SMP Islam Bunga Bangsa Samarinda

Seperti Tahun-tahun sebelumnya SMP Islam Bunga Bangsa melaksanakan kegiatan MOS sejak 27 Juli 2015  dengan kegiatan mendidik dan bermanfaat tanpa perploncoan kepada siswa(i). Adapun agenda kegiatan MOS SMPIBB diantaranya :
1. Super Memory Sisystem "To be a leader"
2. Akidah Akhlak "Berpakaian Trendy dan Syar'i In and Out"
3. Games Leader
4. Fun Games
5. Sosialisasi Keputrian dan Muraja'ah
6. Motivation and Togetherness
7. Kontrak Kelas (Menjaga fasilitas Sekolah)
8. Akhlak dalam bersosial media
9. Akhlak Menghadapi Masa Transisi
10. Penutupan, Pembagian hadiah dan pelepasan balon Harapan.

Jum'at, 31 Juli 2015 Siswa(i) SMP Islam Bunga Bangsa berkumpul di lapangan Depan Front Office untuk melaksanakan kegiatan Pelepasan Balon Harapan/Impian mereka setelah mengikuti Masa Orientasi Sekolah. Harapan dan Impian mereka dituliskan pada secarik kertas kemudian diikatkan pada ujung benang balon untuk diterbangkan ke angkasa.

Pada sambutan penutupan MOS kali ini disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SMP Islam Bunga Bangsa, Bapak Bahtiar Fahrudin,S.Pd.i dengan menceritakan kisah Elang dan Ayam, untuk memotivasi anak didiknya.

"Suatu hari sebuah telor elang terjatuh dari sangkarnya, untungnya telur itu tidak pecah namun ditemukan oleh induk ayam dan disangka sebagai telur miliknya. Berhari-hari telur Elang itu dierami bersama telur-telur ayam yang lain, hingga akhirnya tibalah saat telur-telur itu menetas. Sang elangpun ikut menetas bersama anak-anak ayam yang lain tanpa ia tahu siapa identitas dirinya sebenarnya. Yang ia tahu adalah ia hanyalah seekor anak ayam karena menetas bersama dengan anak-anak ayam lainnya dan dirawat juga oleh induk ayam.

Hingga suatu saat elang dan anak-anak itu tumbuh dewasa dan mulai mencari makanan sendiri.

"Lihat apa itu yang ada di langit! Aku ingin bisa terbang seperti mereka.", Kata anak elang berbicara kepada anak-anak ayam lain.

"Ah, kau bermimpi, mana mungkin seekor ayam bisa terbang seperti elang yang ada di langit itu! Sudahlah takdir kita memang mencari makan di sini dan tidak bisa terbang tinggi seperti mereka." Jawab anak-anak ayam lain sambil menertawakan sang anak elang.

Sang anak elang belum tau kalau dia bukanlah ayam. Dia pun merenung dan memikirkan perkataan teman-temannya. Setiap hari ia berpikir untuk terbang, namun teman-temannya selalu menertawakannya. Sang elang pun mulai menerima takdirnya sebagai ayam, walaupun sebenarnya ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk terbang.

Namun karena lingkungan dan teman-temannya menganggapnya sebagai ayam yang tidak bisa terbang tinggi. Maka ia pun tidak pernah mencoba untuk terbang dan perlahan-lahan mulai percaya dan hingga dewasa hidup sebagai ayam yang tidak bisa terbang layaknya elang".

"anak-anakku, Dalam hidup, ini setiap orang pasti pernah punya impian. Ada yang berusaha mengejar impiannya, ada juga yang tidak berusaha mengejarnya karena merasa dirinya tidak mampu. Namun adakalanya kita sebenarnya memiliki kemampuan itu, namun kita terlalu banyak mendengarkan pendapat orang lain yang meragukan kemampuan kita. Akibatnya kitapun berhenti mengejar impian kita tersebut. Jangan pernah biarkan pendapat seseorang tentangmu membuatmu berhenti untuk mengejar impianmu. Lebih bahaya lagi, jika pendapat seseorang itu membuat dirimu berubah menjadi seseorang yang kamu tahu itu bukan dirimu". Ucap Bapak Bahtiar menutup Sambutannya kali ini.