Membudayakan Membaca untuk Meningkatkan Literasi melalui Program 15 Menit Membaca di Kelas 2 Utsman bin Affan Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda.


 Membaca 15 menit per hari, dengan pendekatan pembelajaran menyenangkan telah dilakukan di Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda. Membaca adalah salah satu kebiasaan baik yang dilakukan dan dijadikan kebutuhan bagi siswa-siswi disetiap jenjang kelasnya. 


Indonesia memiliki tingkat kesadaran membaca yang rendah (World's Most Literate Countries, Central Connecticut State University, posisi Indonesia urutan 61 dari 60 negara, satu tingkat diatas Botswana) dibandingkan dengan tingkat penggunaan Facebook (peringkat 4 setelah USA, India dan Brazil, lebih dari 60, 3 juta pengguna aktif; statisca.com) dan Twitter (peringkat ke 3 setelah USA dan India dengan lebih dari 13 juta pengguna aktif; statisca.com), kenyataan pahit ini tidak lepas dari kebiasaan dan minat baca yang belum membudaya. Di tahun 2012, hasil survey BPS menyebutkan hanya 1 dari 10 anak Indonesia yang punya kesenangan membaca (mirajnews.com). Hal ini erat kaitannya dengan kebiasaan membaca yang tidak dianggap penting dan atau dianggap tidak semenarik menonton TV dan bermain HP. Dengan kebiasaan membaca 15 menit per hari yang sudah dilakukan sejak di kelas-kelas rendah, diharapkan budaya membaca akan menjadi salah satu keunggulan siswa-siswi pemilik masa depan bangsa ini. 
Di kelas 2 Utsman bin Affan, buku-buku dibawa siswa dari rumah. Dikumpulkan dan dibaca bergantian. Buku bertema bebas, mulai dari dongeng, kumpulan kisah hikmah, sampai dengan buku science fictions, sesuai dengan minat anak. Ada buku berbahasa Indonesia, Mandarin dan bahasa Inggris. Beberapa siswa yang masih belum dapat membaca sempurna, kebiasaan membaca 15 menit sehari ini adalah drill bagi mereka mengulang pelajaran membaca nyaring, terutama pada konsonan gabungan -nya dan -ngg.

Siswa-siswi diperkenankan duduk dimanapun mereka mau di bagian apapun didalam kelas. Ada yang sendiri, ada yang berkelompok. Ada yang suka duduk manis di areanya sendiri, ada suka duduk melantai di bawah. Ada yang suka menyimak temannya bercerita, ada yang suka membacakan untuk teman-temannya. Meskipun penekanannya, tetap pada upaya membaca masing-masing secara mandiri.

Kegiatan bisa dilakukan setelah sholat dan doa Dhuha dan setelah siswa-siswi menyanyikan Indonesia Raya, atau setelah sholat dzhr sesaat sebelum pelajaran siang dimulai. 

Dengan membaca, anak-anak akan terbiasa bersikap kritis dan analitis, bersedia mencari tahu dan terbuka pada pendapat yang berbeda. Setelah menjadi budaya, membaca akan menjadi kendaraan besar bagi generasi muda ini untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Komentar