Pelaksanaan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Mengembangkan Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda

Oleh : Yeni Duwi Seviawati, ST 

Kurikulum sebagai jantung pendidikan perlu dikembangkan dan diimplementasikan secara kontekstual untuk merespon kebutuhan daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik di masa kini dan masa mendatang. Beranjak dari kondisi tersebut maka kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Ari Pudjiastuti (2017) mengungkapkan bahwa perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 ke kurikulum 2013 menuntut semua pelaku pendidikan terutama guru untuk melakukan banyak penyesuaian dalam perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian pembelajarannya. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. 
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Mg. Rini Kristiantari, secara teoretis guru-guru sudah memiliki pemahaman tentang kurikulum 2013. Namun walaupun memiliki pemahaman tentang kurikulum 2013, guru-guru masih kesulitan dalam mengaplikasikan kurikulum 2013. Salah satu perubahan yang mendasar terjadi di tingkat sekolah dasar terkait dengan sistem pembelajaran, yaitu pembelajaran tematik integratif. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu merancang pengalaman belajar secara bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar yang mengaitkan unsur-unsur konseptual menjadi proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antara mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistik).

Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :

1.      Berpusat pada siswa. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered) hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberi kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2.      Memberikan pengalaman langsung. Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences) sebagai dasar untuk memahami hal-hal lebih abstrak.

3.      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas. Dalam pembelajaran tematik pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat dan berkaitan dengan kehidupan siswa.

4.      Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahankan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

5.      Bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhan.

7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Tema adalah pengikat tali keutuhan pengetahuan yang disampaikan/dipelajari anak. Melalui tema tertentu guru menentukan apa saja yang dapat dipelajari anak terkait dengan tema tersebut.

Guru harus kreatif dan menggunakan media yang bervariatif dalam menciptakan pembelajaran. Pendekatan yang sesuai dengan kurikulum 2013 adalah pendekatan ilmiah (scientific learning). Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific) dan tematik terpadu perlu diterapkan pembelajaran berbasis penemuaan/penelitian (Discovery/inquiry learning). Selain itu, untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (Problem based learning).  
SD Islam Bunga Bangsa sejak tahun 2013 menjadi pilot project kurikulum 2013. SD Islam Bunga Bangsa Visi : Mendidik peserta didik menjadi generasi unggul yang sehat dan kuat, memiliki iman takwa yang tinggi, etos kerja yang prima, cerdas terampil, berwawasan internasional serta cinta tanah air. Melalui visi tersebut SD Islam Bunga Bangsa diharapkan dapat menjadi motivasi yang menentukan arah tujuan sekolah. Salah satu visi SD Islam Bunga Bangsa adalah cerdas dan terampil. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka sekolah mempunyai program inovasi yaitu Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Kartika Chrysti S menyampaikan Pembelajaran berbasis Riset (PBR) adalah sistem pengajaran yang bersifat otentik problem solving dengan sudut pandang formulasi permasalahan, penyelesaian masalah, dan mengkomunikasikan manfaat hasil penelitian. Hal tersebut diyakini mampu meningkatkan mutu pembelajaran. Pembelajaran berbasis riset (PBR) merupakan metode pembelajaran kooperatif, problem-solving, authentic learning, contextual (hands on & minds on) dan inquiry discovery approach secara konstruktivisme dengan harapan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis dan mengevaluasi suatu persoalan. Peserta didik dapat membangun pengetahuan baru dari prosedur penelitian. Pembelajaran Berbasis Riset (PBR) merupakan salah satu metode Student-Centered Learning (SCL) yang mengintegrasikan Riset di dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis Riset (PBR) bersifat multifaset yang mengacu kepada berbagai macam metode pembelajaran. Pembelajaran berbasis riset (PBR) memberi peluang atau kesempatan kepada peserta didik untuk mencari informasi, menyusun hipotesi, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan atas data yang sudah tersusun. Dalam aktivitas ini berlaku pembelajaran dengan pendekatan “learning by doing”. Pendekatan menggunakan PBR ini telah mengubah fokus pendidikan sains dari penghafalan konsep-konsep dan fakta-fakta ke dalam belajar berdasar inkuiri, selanjutnya peserta didik mencoba menjawab untuk memahami atau memecahkan suatu masalah. Dengan demikian bahwa manfaat dari pembelajaran berbasis riset adalah pengembangan ketrampilan inkuiri. Peserta didik mendapat kesempatan untuk tahu atau belajar tidak hanya dari isi pelajaran tetapi mereka dapat mempratekannya, misalnya mencari literatur, membentuk hipotesis, koleksi data, menganalisis data/menguji data, menarik kesimpulan. Jika teknik pengajaran berbasis Riset diterapkan dengan baik pada peserta didik maka mereka dapat menerapkan ketrampilan inkuiri untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Istamar Syamsyuri (1996) mengungkapkan bahwa pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) menduduki peranan yang strategis dalam menunjang kebijaksanaan pemerintah yaitu pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini (dengan menggunakan sumber daya alam) tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dituntut adanya pastisipasi segenap lapisan masayarakat yang memiliki kesadaran, kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Membentuk dan mendidik manusia sadar lingkungan harus dilaksanakan sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Tingkat pendidikan dasar merupakan lembaga pendidikan formal yang strategis untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dengan seperangkat pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam hubungannya dengan PLH, yang selanjutnya akan menentukan sikap dan persepsi untuk perspektif jangka panjang. Dengan kata lain, sikap dan persepsi seseorang tentang kelestarian lingkungan hidup sangat dipengaruhi oleh perolehan PLH ditingkat pendidikan dasar..

Karakteristik pembelajaran kurikulum 2013 adalah memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik dengan mengeksplorasi pengetahuannya melalui berbagai sumber belajar dan kerjasama/sharing antar pelaku dalam suasana belajar yang menyenangkan. Untuk itu pelaksanaan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Islam Bunga Bangsa sejalan dengan karateristik pembelajaran Kurikulum 2013.

Tujuan pentingnya dilaksanakan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Islam Bunga Bangsa adalah:
1.      Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan meningkatkan rasa ingin tahu. Setiap peserta didik memiliki kemampuan berpikir secara kritis dan analitik, mengevaluasi informasi dan pemecahan masalah.
2.      Melatih peserta didik untuk kreatif, inovatif dan produktif. Setiap peserta didik memiliki kompetensi untuk melaksanakan dan mengevaluasi penelitian sehingga bisa menciptakan inovasi yang sangat bermanfaat bagi lingkungan
3.      Melatih peserta didik memiliki motivasi belajar yang tinggi dan memiliki peluang untuk aktif di dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan dunia praktik kelak dikemudian hari.
4.      Melatih peserta didik dengan nilai-nilai disiplin, untuk mendapatkan pengalaman praktik dan etika.
5.      Melatih peserta didik untuk lebih memahami tentang betapa pentingnya nilai-nilai disiplin bagi masyarakat
6.      Melatih peserta didik untuk bersikap dan berperilaku positif terhadap lingkungan
7.      Mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik sehingga mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari

Melalui Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) peserta didik SD Islam Bunga Bangsa disajikan beberapa permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Kegiatan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)  di SD Islam Bunga Bangsa dilaksanakan mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. SD Islam Bunga Bangsa memasukkan dalam struktur kurikulum sebanyak 2 JP/minggu. Judul dalam Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya sama, yang membedakan pada saat membuat laporan. Kegiatan ini kita lakukan secara berkelompok dengan tujuan untuk melatih komunikasi antar peserta didik melalui sharing dan tukar pendapat dan melatih peserta didik untuk menghargai temannya. Seluruh media dan perlengkapan disediakan oleh sekolah. Bahkan SD Islam Bunga Bangsa menyediakan lahan pertanian dan perikanan untuk menfasilitasi peserta didik yang menggunakan Riset di bidang pertanian dan perikanan sebagai judul Riset Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang sedang mereka geluti.

Beberapa judul Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang dilaksanakan adalah:

1.      Di kelas empat “Pembuatan Biopori di Lingkungan Sekolah”.
Untuk materi pembuatan biopori kami bekerjasama dengan salah satu wali murid yang mempunyai kerjasama dengan “ecositrop”. Dimana tim ecositrop berlaku sebagai nasasumber yang memberikan materi tentang pembuatan biopori. Langkah awal yang dilakukan adalah seluruh siswa mengamati dan memperhatikan dampak lingkungan sekitar sekolah. Kebetulan sekolah SD Islam Bunga Bangsa berada di akses jalan yang sering banjir. Sehingga para siswa mulai “menanyakan bagaimana cara mengatasi banjir?”. Nah, disini peran serta tim ecositrop bersama guru mengarahkan peserta didik mempunyai solusi untuk mengatasi banjir. Peserta didik dibantu dengan tim ecositrop membuat lubang biopori di lingkungan sekolah

2.      Di kelas lima “Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak”.  
Langkah awal yang dilakukan adalah seluruh siswa mengamati dan memperhatikan dampak lingkungan sekitar sekolah akibat sampah utamanya sampah plastik. Sering sekali kita menemukan sampah plastik sebagai salah satu penyebab kebanjiran. Sehingga siswa membuat pertanyaan “Bagaimana cara memanfaatkan sampah plastik”. Ternyata jawaban dari siswa bervariasi mulai kegiatan daur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat sampai pemanfaatan sebagai bahan bakar minyak. Akhirnya seluruh siswa setiap hari mengumpulkan sampah plastik, dan membakar serta membuktikan bahwa hasilnya bias dijadikan bahan bakar minyak.

3.      Di kelas enam ada tiga judul yang sudah dilaksanakan yaitu “Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Singkong (Manihotsp). Pengaruh Sinar Matahari Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Rapa var). Perbandingan Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias) dan Ikan Patin (Pangasius sp) di Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda.
Peserta didik menanam tanaman singkong (Manihotsp) dengan dua media tanam yang berbeda. Peserta didik setiap pekan selalu mengamati tanaman singkong (Manihotsp) di polybag dan tanam langsung. Peserta didik menulis laporan perkembangan dari tanaman singkong (Manihotsp) mulai dari ukuran tinggi dan jumlah daun.
Pada penelitian tanaman sawi (Brassica Rapa var) Peserta didik menanam tanaman sawi (Brassica Rapa var) dengan dua media dan dua tempat yang berbeda. Peserta didik setiap pekan selalu mengamati tanaman sawi (Brassica Rapa var) di polybag di tempat yang tidak terkena cahaya matahari dan tanam langsung di tempat yang terkena cahaya matahari. Peserta didik menulis laporan perkembangan dari tanaman tanaman sawi (Brassica Rapa var) mulai dari jumlah daun, warna dan tinggi.
Pada penelitian Perbandingan Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias) dan Ikan Patin (Pangasius sp). Peserta didik mulai dari merilis dua jenis bibit ikan ke dalam kolam secara bersama-sama. Kegiatan setiap hari peserta didik memberi makan dengan jenis pakan yang sama. Setiap bulan peserta didik melakukan pengukuran panjang ikan Lele (Clarias) dan Ikan Patin (Pangasius sp) sebagai bahan pelaporan.
Wiwik dwi kurniasih,dkk menyampaikan bahwa, untuk menghasilkan output pendidikan yang bermutu, maka elemen-elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan harus bermutu dan berdaya guna. Elemen-elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan salah satunya adalah tenaga pendidik atau guru. Sebagai pengajar dan pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan. Sebagai salah satu faktor penentu dalam dunia pendidikan, maka kualitas guru perlu ditingkatkan, sehingga dapat menghasilkan output yang bermutu. 

Begitupun juga dengan kegiatan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Islam Bunga Bangsa tidak terlepas dari peran serta guru yang kreatif, kritis dan produktif. Karena selain sebagai wali kelas mereka dituntut untuk menjadi pembimbing bahkan narasumber dalam pelaksanaan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) sesuai dengan jenjang masing-masing. Wali kelas memiliki kompetensi yang baik untuk menfasilitasi seluruh kegiatan peserta didik dari awal hingga akhir. Sehingga nantinya akan tercipta hasil karya berupa pelaporan hasil Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Bahkan untuk hasil yang berkaitan dengan produk pertanian dan perikanan, para peserta didik mengolah dan memasarkan hasil produk mereka kepada wali murid masyarakat sekitar.

Melalui kegiatan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) diharapkan seluruh siswa memiliki budaya untuk selalu meneliti dan menggali rasa ingin tahu mereka terhadap permasalahan-permasalah yang ada di lingkungan sekitar serta mampu memberikan solusi dan pemecahan masalah. Sehingga mereka tidak takut lagi untuk meneliti




















































































DAFTAR PUSTAKA
Ari Pudjiastuti. Memotret Kompetensi Siswa. Surabaya. Penerbit CV. Cipta Media Edukasi. 2017

Istamar Syamsuri. Peningkatan Kesiapan Guru dalam Mengintegrasikan Pendidikan Lingkungan Hidup di Tingkat Pendidikan Dasar melalui Penyiapan Modul. Jurnal Ilmu Pendidikan , Jilid 3, Nomor 3. Agustus 1996


Kartika Chrysti S. Implementasi Pembelajaran Berbasis Riset Kajian: Fermentasi Limbah Cucian Beras (Leri) Untuk Pembuatan Nata  Pada Mata Kuliah Konsep Dasar IPA Mahasiswa S1 PGSD FKIP UNS Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi Email: kartikachrysti@yahoo.com

Mg. Rini Kristiantari Analisis Kesiapan Guru Sekolah Dasar Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik Integratif Menyongsong Kurikulum 2013 Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia e-mail: rini_bali@yahoo.co.id

Wiwik Dwi Kurniasih, Usman Radiana, Martono. Pengembangan Budaya Mutu Di Sekolah Dasar Swasta Bruder Melati Kota Pontianak Program Magister Administrasi Pendidikan
FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak. Email: wiwikdwi144@yahoo.co.id



 Pelaksanaan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Mengembangkan Implementasi Kurikulum 2013 di  Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda

Kurikulum sebagai jantung pendidikan perlu dikembangkan dan diimplementasikan secara kontekstual untuk merespon kebutuhan daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik di masa kini dan masa mendatang. Beranjak dari kondisi tersebut maka kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Ari Pudjiastuti (2017) mengungkapkan bahwa perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 ke kurikulum 2013 menuntut semua pelaku pendidikan terutama guru untuk melakukan banyak penyesuaian dalam perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian pembelajarannya. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Mg. Rini Kristiantari, secara teoretis guru-guru sudah memiliki pemahaman tentang kurikulum 2013. Namun walaupun memiliki pemahaman tentang kurikulum 2013, guru-guru masih kesulitan dalam mengaplikasikan kurikulum 2013. Salah satu perubahan yang mendasar terjadi di tingkat sekolah dasar terkait dengan sistem pembelajaran, yaitu pembelajaran tematik integratif. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu merancang pengalaman belajar secara bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar yang mengaitkan unsur-unsur konseptual menjadi proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antara mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistik).

Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :

1.      Berpusat pada siswa. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered) hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberi kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2.      Memberikan pengalaman langsung. Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences) sebagai dasar untuk memahami hal-hal lebih abstrak.

3.      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas. Dalam pembelajaran tematik pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat dan berkaitan dengan kehidupan siswa.

4.      Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahankan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

5.      Bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhan.

7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Tema adalah pengikat tali keutuhan pengetahuan yang disampaikan/dipelajari anak. Melalui tema tertentu guru menentukan apa saja yang dapat dipelajari anak terkait dengan tema tersebut.

Guru harus kreatif dan menggunakan media yang bervariatif dalam menciptakan pembelajaran. Pendekatan yang sesuai dengan kurikulum 2013 adalah pendekatan ilmiah (scientific learning). Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific) dan tematik terpadu perlu diterapkan pembelajaran berbasis penemuaan/penelitian (Discovery/inquiry learning). Selain itu, untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (Problem based learning).  
SD Islam Bunga Bangsa sejak tahun 2013 menjadi pilot project kurikulum 2013. SD Islam Bunga Bangsa Visi : Mendidik peserta didik menjadi generasi unggul yang sehat dan kuat, memiliki iman takwa yang tinggi, etos kerja yang prima, cerdas terampil, berwawasan internasional serta cinta tanah air. Melalui visi tersebut SD Islam Bunga Bangsa diharapkan dapat menjadi motivasi yang menentukan arah tujuan sekolah. Salah satu visi SD Islam Bunga Bangsa adalah cerdas dan terampil. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka sekolah mempunyai program inovasi yaitu Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Kartika Chrysti S menyampaikan Pembelajaran berbasis Riset (PBR) adalah sistem pengajaran yang bersifat otentik problem solving dengan sudut pandang formulasi permasalahan, penyelesaian masalah, dan mengkomunikasikan manfaat hasil penelitian. Hal tersebut diyakini mampu meningkatkan mutu pembelajaran. Pembelajaran berbasis riset (PBR) merupakan metode pembelajaran kooperatif, problem-solving, authentic learning, contextual (hands on & minds on) dan inquiry discovery approach secara konstruktivisme dengan harapan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis dan mengevaluasi suatu persoalan. Peserta didik dapat membangun pengetahuan baru dari prosedur penelitian. Pembelajaran Berbasis Riset (PBR) merupakan salah satu metode Student-Centered Learning (SCL) yang mengintegrasikan Riset di dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis Riset (PBR) bersifat multifaset yang mengacu kepada berbagai macam metode pembelajaran. Pembelajaran berbasis riset (PBR) memberi peluang atau kesempatan kepada peserta didik untuk mencari informasi, menyusun hipotesi, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan atas data yang sudah tersusun. Dalam aktivitas ini berlaku pembelajaran dengan pendekatan “learning by doing”. Pendekatan menggunakan PBR ini telah mengubah fokus pendidikan sains dari penghafalan konsep-konsep dan fakta-fakta ke dalam belajar berdasar inkuiri, selanjutnya peserta didik mencoba menjawab untuk memahami atau memecahkan suatu masalah. Dengan demikian bahwa manfaat dari pembelajaran berbasis riset adalah pengembangan ketrampilan inkuiri. Peserta didik mendapat kesempatan untuk tahu atau belajar tidak hanya dari isi pelajaran tetapi mereka dapat mempratekannya, misalnya mencari literatur, membentuk hipotesis, koleksi data, menganalisis data/menguji data, menarik kesimpulan. Jika teknik pengajaran berbasis Riset diterapkan dengan baik pada peserta didik maka mereka dapat menerapkan ketrampilan inkuiri untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Istamar Syamsyuri (1996) mengungkapkan bahwa pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) menduduki peranan yang strategis dalam menunjang kebijaksanaan pemerintah yaitu pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini (dengan menggunakan sumber daya alam) tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dituntut adanya pastisipasi segenap lapisan masayarakat yang memiliki kesadaran, kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Membentuk dan mendidik manusia sadar lingkungan harus dilaksanakan sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Tingkat pendidikan dasar merupakan lembaga pendidikan formal yang strategis untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dengan seperangkat pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam hubungannya dengan PLH, yang selanjutnya akan menentukan sikap dan persepsi untuk perspektif jangka panjang. Dengan kata lain, sikap dan persepsi seseorang tentang kelestarian lingkungan hidup sangat dipengaruhi oleh perolehan PLH ditingkat pendidikan dasar..

Karakteristik pembelajaran kurikulum 2013 adalah memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik dengan mengeksplorasi pengetahuannya melalui berbagai sumber belajar dan kerjasama/sharing antar pelaku dalam suasana belajar yang menyenangkan. Untuk itu pelaksanaan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Islam Bunga Bangsa sejalan dengan karateristik pembelajaran Kurikulum 2013.

Tujuan pentingnya dilaksanakan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Islam Bunga Bangsa adalah:
1.      Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan meningkatkan rasa ingin tahu. Setiap peserta didik memiliki kemampuan berpikir secara kritis dan analitik, mengevaluasi informasi dan pemecahan masalah.
2.      Melatih peserta didik untuk kreatif, inovatif dan produktif. Setiap peserta didik memiliki kompetensi untuk melaksanakan dan mengevaluasi penelitian sehingga bisa menciptakan inovasi yang sangat bermanfaat bagi lingkungan
3.      Melatih peserta didik memiliki motivasi belajar yang tinggi dan memiliki peluang untuk aktif di dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan dunia praktik kelak dikemudian hari.
4.      Melatih peserta didik dengan nilai-nilai disiplin, untuk mendapatkan pengalaman praktik dan etika.
5.      Melatih peserta didik untuk lebih memahami tentang betapa pentingnya nilai-nilai disiplin bagi masyarakat
6.      Melatih peserta didik untuk bersikap dan berperilaku positif terhadap lingkungan
7.      Mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik sehingga mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari

Melalui Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) peserta didik SD Islam Bunga Bangsa disajikan beberapa permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Kegiatan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)  di SD Islam Bunga Bangsa dilaksanakan mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. SD Islam Bunga Bangsa memasukkan dalam struktur kurikulum sebanyak 2 JP/minggu. Judul dalam Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya sama, yang membedakan pada saat membuat laporan. Kegiatan ini kita lakukan secara berkelompok dengan tujuan untuk melatih komunikasi antar peserta didik melalui sharing dan tukar pendapat dan melatih peserta didik untuk menghargai temannya. Seluruh media dan perlengkapan disediakan oleh sekolah. Bahkan SD Islam Bunga Bangsa menyediakan lahan pertanian dan perikanan untuk menfasilitasi peserta didik yang menggunakan Riset di bidang pertanian dan perikanan sebagai judul Riset Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang sedang mereka geluti.
Beberapa judul Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang dilaksanakan adalah:

1.      Di kelas empat “Pembuatan Biopori di Lingkungan Sekolah”.
Untuk materi pembuatan biopori kami bekerjasama dengan salah satu wali murid yang mempunyai kerjasama dengan “ecositrop”. Dimana tim ecositrop berlaku sebagai nasasumber yang memberikan materi tentang pembuatan biopori. Langkah awal yang dilakukan adalah seluruh siswa mengamati dan memperhatikan dampak lingkungan sekitar sekolah. Kebetulan sekolah SD Islam Bunga Bangsa berada di akses jalan yang sering banjir. Sehingga para siswa mulai “menanyakan bagaimana cara mengatasi banjir?”. Nah, disini peran serta tim ecositrop bersama guru mengarahkan peserta didik mempunyai solusi untuk mengatasi banjir. Peserta didik dibantu dengan tim ecositrop membuat lubang biopori di lingkungan sekolah

2.      Di kelas lima “Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak”.  
Langkah awal yang dilakukan adalah seluruh siswa mengamati dan memperhatikan dampak lingkungan sekitar sekolah akibat sampah utamanya sampah plastik. Sering sekali kita menemukan sampah plastik sebagai salah satu penyebab kebanjiran. Sehingga siswa membuat pertanyaan “Bagaimana cara memanfaatkan sampah plastik”. Ternyata jawaban dari siswa bervariasi mulai kegiatan daur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat sampai pemanfaatan sebagai bahan bakar minyak. Akhirnya seluruh siswa setiap hari mengumpulkan sampah plastik, dan membakar serta membuktikan bahwa hasilnya bias dijadikan bahan bakar minyak.

3.      Di kelas enam ada tiga judul yang sudah dilaksanakan yaitu “Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Singkong (Manihotsp). Pengaruh Sinar Matahari Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Rapa var). Perbandingan Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias) dan Ikan Patin (Pangasius sp) di Sekolah Dasar Islam Bunga Bangsa Samarinda.
Peserta didik menanam tanaman singkong (Manihotsp) dengan dua media tanam yang berbeda. Peserta didik setiap pekan selalu mengamati tanaman singkong (Manihotsp) di polybag dan tanam langsung. Peserta didik menulis laporan perkembangan dari tanaman singkong (Manihotsp) mulai dari ukuran tinggi dan jumlah daun.
Pada penelitian tanaman sawi (Brassica Rapa var) Peserta didik menanam tanaman sawi (Brassica Rapa var) dengan dua media dan dua tempat yang berbeda. Peserta didik setiap pekan selalu mengamati tanaman sawi (Brassica Rapa var) di polybag di tempat yang tidak terkena cahaya matahari dan tanam langsung di tempat yang terkena cahaya matahari. Peserta didik menulis laporan perkembangan dari tanaman tanaman sawi (Brassica Rapa var) mulai dari jumlah daun, warna dan tinggi.
Pada penelitian Perbandingan Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias) dan Ikan Patin (Pangasius sp). Peserta didik mulai dari merilis dua jenis bibit ikan ke dalam kolam secara bersama-sama. Kegiatan setiap hari peserta didik memberi makan dengan jenis pakan yang sama. Setiap bulan peserta didik melakukan pengukuran panjang ikan Lele (Clarias) dan Ikan Patin (Pangasius sp) sebagai bahan pelaporan.
Wiwik dwi kurniasih,dkk menyampaikan bahwa, untuk menghasilkan output pendidikan yang bermutu, maka elemen-elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan harus bermutu dan berdaya guna. Elemen-elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan salah satunya adalah tenaga pendidik atau guru. Sebagai pengajar dan pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan. Sebagai salah satu faktor penentu dalam dunia pendidikan, maka kualitas guru perlu ditingkatkan, sehingga dapat menghasilkan output yang bermutu. 

Begitupun juga dengan kegiatan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Islam Bunga Bangsa tidak terlepas dari peran serta guru yang kreatif, kritis dan produktif. Karena selain sebagai wali kelas mereka dituntut untuk menjadi pembimbing bahkan narasumber dalam pelaksanaan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) sesuai dengan jenjang masing-masing. Wali kelas memiliki kompetensi yang baik untuk menfasilitasi seluruh kegiatan peserta didik dari awal hingga akhir. Sehingga nantinya akan tercipta hasil karya berupa pelaporan hasil Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Bahkan untuk hasil yang berkaitan dengan produk pertanian dan perikanan, para peserta didik mengolah dan memasarkan hasil produk mereka kepada wali murid masyarakat sekitar.

Melalui kegiatan Riset dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) diharapkan seluruh siswa memiliki budaya untuk selalu meneliti dan menggali rasa ingin tahu mereka terhadap permasalahan-permasalah yang ada di lingkungan sekitar serta mampu memberikan solusi dan pemecahan masalah. Sehingga mereka tidak takut lagi untuk meneliti
  
DAFTAR PUSTAKA
Ari Pudjiastuti. Memotret Kompetensi Siswa. Surabaya. Penerbit CV. Cipta Media Edukasi. 2017

Istamar Syamsuri. Peningkatan Kesiapan Guru dalam Mengintegrasikan Pendidikan Lingkungan Hidup di Tingkat Pendidikan Dasar melalui Penyiapan Modul. Jurnal Ilmu Pendidikan , Jilid 3, Nomor 3. Agustus 1996


Kartika Chrysti S. Implementasi Pembelajaran Berbasis Riset Kajian: Fermentasi Limbah Cucian Beras (Leri) Untuk Pembuatan Nata  Pada Mata Kuliah Konsep Dasar IPA Mahasiswa S1 PGSD FKIP UNS Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi Email: kartikachrysti@yahoo.com

Mg. Rini Kristiantari Analisis Kesiapan Guru Sekolah Dasar Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik Integratif Menyongsong Kurikulum 2013 Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia e-mail: rini_bali@yahoo.co.id

Wiwik Dwi Kurniasih, Usman Radiana, Martono. Pengembangan Budaya Mutu Di Sekolah Dasar Swasta Bruder Melati Kota Pontianak Program Magister Administrasi Pendidikan
FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak. Email: wiwikdwi144@yahoo.co.id

Komentar